Last Moment - Good Bye Carrolusschool
Setelah melalui masa menimbang lebih kurang 3-4 bulan & istiqoroh, akhirnya kami memutuskan Odang & Ndek pindah sekolah. Bukan karena alasan ummi diminta ngajar full time sebagai relawan guru, tetapi juga ada beberapa hal yang membuat kami membulatkan tekad pindah tsb. Sikap anak-anak yang makin ke-belanda2an menjadi alasan kuat, odang mulai nggak terlalu aware sama makanan yang nggak halal (karena beberapa temannya yang muslim asyik2 aja, dan odang berpatokan pada mereka) ini kejadian waktu odang ikut kursus masak di sebuah opvang. Waktu ummi minta ijin odang nggak ikut lagi, gurunya malah jutek tersinggung... terus ngancem tahun depan odang ga boleh ikut lagi ekskul!
Waktu wisata sekolah Ndek yang paling kecil mungil, juga ga diperhatikan (kebetulan Juf Ellen yang biasanya selalu sayang sama Ndek ga bisa ikut), pulang dari wisata ke Blijdorp Ndek langsung nangis & malam kakinya kram karena terlalu capek jalan, gurunya ga care banget... Anak2 juga dipengaruhi supaya ga pake jilbab. Jadilah kami mutusin anak-anak pindah di hari terakhir sekolah. Meski sebelumnya mereka udah tahu rencana ini, tapi mereka cukup kaget waktu kami bikin acara afscheid/perpisahan. Guru2 kami beri kenang2an, ummi ga datang karena biasanya ummi ga suka dg acara perpisahan.
Insya Allah niat kami adalah menguatkan dulu fondasi keislaman mereka, mumpung masih anak2 masih bisa dibentuk, nantinya jika mereka telah siap & telah melalui masa remaja yang merupakan masa riskan, mereka boleh kembali ke sekolah Belanda.
Bukan hal yang mudah dalam adaptasi dengan lingkungan yang baru, padahal anak-anak sudah sering dibawa ke SIN. Apalagi waktu pertama masuk, siswa SD cuma mereka berempat. Odang selalu bilang "saai", ummi sendiri juga sedang dalam masa adaptasi dengan ngajar full time. Odang yang paling merasa kehilangan teman2nya, kalo Ndek sih cuek karena dia memang sejak awal nggak ngerasa nyaman di sekolah belanda.
Alhamdulillah nggak lama datang anak2 Maroko. Odang mulai semangat karena juga ada sparing partner dalam berbahasa Belanda. Nah, supaya anak2 nggak lupa dengan bahasa Belandanya selain ada 2 jam pelajaran bahasa belanda, ummi juga daftarin mereka di bibliotheek Den Haag.
Ummi yang makin stress karena harus ngadepin anak2 yang nggak berbahasa Indonesia. Kakak2 kelas Odang juga sering datag ke kelas SD saat mereka nggak ada pelajaran, suasana makin marak.

Odang & Ndek ikut semua kegiatan di SIN. Mulai dari upacara, morning speak, pemilu osis, pesantren kilat, bukber dll. Alhamdulillah lama-lama mereka menikmati lingkungan barunya. Odang & Ndek masih terus berbahasa belanda, teman2nya yang indonesia malah ikutan juga. Pelan-pelan Odang & Ndek mulai memakai kembali jilbabnya, bahkan sekarang udah nggak pernah minta lepas lagi, alhamdulillah... makanan tentu saja lebih terjaga karena ummi selalu bawa dari rumah. Sopan santun, pergaulan, Ndek juga makin pede main dengan teman-temannya. Sekarang siswa SD makin bertambah, kelas jadi makin rame karena mereka bermain bersama tanpa lihat umur & kelas.

Disela-sela waktu belajar, odang juga belajar main piano yang kebetulan ada di ruang SD. Dari Kakak2 yang ketika istirahat digunakan untuk makan siang & main piano, Odang memperhatikan & akhirnya mencoba. Kalau Ndek, lebih tertarik dengan tari. Kakak2 yang sering latihan menari untuk persiapan Olimpiade SILN di Makassar nanti jadi perhatiannya.
Ummi & Ibu Dwi juga berupaya membuat menarik setiap pelajaran, sebagian mengadopsi metode belajarnya sekolah Belanda. Menghias kelas supaya nggak boring. Ternyata anak2 sangat antusias waktu kami mengadakan acara cooking club membuat cookies, melukis dengan cat air, membuat kerajinan tangan keranjang dari koran, mengumpulkan daun & buah kering kemudian dibuat hiasan dll. Buat ummi memang terasa berat karena harus menyediakan waktu & tenaga extra, kadang kecapekan. Tapi ummi senang & puas.
Video2 lain bisa dilihat disini http://portfolioku.multiply.com/video sedangkan foto-foto di sekolah bisa dilihat disini http://portfolioku.multiply.com/photos/album/16/Anak-anak_di_SIN_Wassenaar


No comments:
Post a Comment